Selasa, 22 Mei 2012

Ada Issue ya?: Becak Motor VS Becak Kayuh


Yogyakarta,22/05/2012..

Wah yang ini lagi hangat2 nya ,.. di Yogyakarta, memang polemik seperti akan berbuntut panjang bila tidak cepat di selesaikan secara adil dan tuntas,Hari ini (Selasa tanggal 22 mei)  saya sempat mewawancarai 2 orang bapak pengayuh becak di seputaran jalan malioboro, Mereka adalah :

Bpk.Dwi Raharjo (sekaligus perwakilan atau ketua Paguyuban becak kayuh Malioboro) Beserta temanya Bpk.Suharyo beliau penarik becak kayuh lainya.

Berikut Komentar dan Masukan dari mereka:

Menurut mereka Becak motor/Betor mulai terlihat dan beroperasi kira-kira awal tahun 2010 di seputaran wilayah Yogyakarta khususnya Jalan Malioboro dan Perempatan BI,menjelang akhir tahun 2011 terjadi perselisihan dan salah paham  dan puncaknya terjadi pada tanggal 16/04/2012 dengan diselenggarakanya pembahasan mengenai "MAU DI BIARKAN ATAU DI HAPUSKANYA BETOR",

Pembahasan itu di laksanakan oleh Kepala Dinas Perhubungan Dan Pariwisata Yogyakarta,Kapolsek beserta Poltabes wilayah yogyakarta, penarik becak kayuh merasa resah akan keberadaan betor di seputaran kawasan malioboro,mereka berasumsi para penrik betor sudah menyalahi aturan lalu lintas dengan tidak mengantongi surat2 kepemilikan kendaraan bermotor yang sah, menambah prosentase angka kecelakaan dan tidak mencerminkan alat transportasi tradisional Yogyakarta.Dari hasil sementara rapat tersebut para pemilik bentor dilarang beroperasi di seputar kawasan Jalan Malioboro,toh msh ada saja satu dua para penarik betor yang saya temui di sekitar jalan.  Belum ada keputusan mutlak yang dibuat sampai diadakan rapat selanjutnya yang entah kapan.

Bpk. Dwi Raharjo sedang beristirahat bersama teman-temanya


"Kami sebenarnya tidak mempermasalahkan keberadaan betor di kawasan sini mas",..akan tetapi mereka (betor) harus memiliki ijin beroperasi dari Pemkot Yogya",apalagi mereka menggunakan mesin. asal sudah di setujui atasan (pemkot yogya) tentang diberikanya ijin betor untuk beroperasi",...maka kami dengan senang hati menerima keputusan itu toh kita jg sama2 mencari nafkah disini",... tentunya pemerintah jg harus adil dalam membuat keputusanya, (tutur Bpk.Dwi")

Dan saya juga ingin memberikan masukan kepada pemkot jogja bahwasanya para penarik bentor janganlah benar-benar dihapuskan, karena dengan cara menghapus tidak tertutup kemungkinan akan terjadi masalah lagi di kemudian hari sebagai contoh angka pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat. sebagai saran , mungkin para pemilik betor ini di sediakan lahan beroperasi sendiri atau bersama para penarik becak kayuh dengan membuat keputusan yang tidak berat sebalh tentunya,toh betor memiliki beberapa kelebihan dibanding becak biasa yaitu daya angkut yang lebih besar dan ongkos yang relatif lebih murah dibandingkan ojek biasa.

(Sumber: wawancara langsung dan Googling data, dengan beberapa suntingan bahasa)



Senin, 21 Mei 2012

ADA APA KALI INI? Ruang Bawah Tanah Lawang Sewu




Masih mengusung tema sebelumnya http://jurnars-photography.blogspot.com/ tp kali ini saya akan membahas tentang Ruang Bawah Tanah nya. nah..nah... setelah capek berkeliling dan memasuki ruangan-ruangan lawang di dalam gedung lawang sewu, saya beristirahat sekitar 15 menit sebelum ahirnya ditawari oleh TourGuide lawang sewu untuk memasuki Ruang bawah tanah di lawang sewu ini.

Tiba2 langsung terfikirkan Video penampakan nona Kunti di sebuah acara uji nyali yang pernah di tayangkan di salah satu stasiun televisi swasta -___- sempat ragu untuk ikut tour guide menyeramkan ini. akan tetapi karena di dorong rasa penasaran yang tinggi ahirnya saya memberanikan diri memasuki Ruang Bawah tanah itu.

tempat yang pernh dijadikan untuk lokasi uji nyali


Setelah mempersiapkan mental,membayar Tiket masuk sebesar Rp.10.000 rupiah, saya hanya mendapatkan perlengkapan berupa sepatu boots dan sebuah senter ,knp kita mendapatkan perlengkapan tersebut??  karena ruang bawah tanah lawang sewu lantainya di banjiri oleh air.Senter yang di berikan digunakan untuk menerangi jalan kita di bawah sana karena fasilitas pencahayaan yang di berikan sangat minim belum lagi ada beberapa jalan yang berlubang dan tergenang air saya harapkan anda berhati hati memasuki area ini.


hati-hati terhadap lubang dan benda-benda yang bs membuat anda terjatuh



Ruang bawah tanahnya juga berfungsi sebagai tempat menampung air, agar  gedung ini senantiasa dingin. Namun saya belum menangkap maksud dari guidenya yang mengatakan bahwa ruang bawah tanah ini sebagai daerah resapan air itu seperti apa ya? Padahal bawahnya ruang bawah tanah itu juga beton bukan tanah.

Kesan mistis karena gelapnya ruangnya memang ada, tapi terserah anda mau mencoba-coba mencari masalah dengan makhluk gaib. Yang katanya jelmaan dari tahanan-tahanan kolonial jaman penjajahan yang dipenjara di ruang bawah tanah tersebut.Terdapatnya sebuah lubang yang terhubung dengan sungai kecil di dekat gedung itu katanya untuk membuang mayat-mayat yang dipenjara di ruang bawah tanah Lawang  Sewu supaya tidak ketahuan.
jangan sampai tertinggal rombongan atau tourguide anda :D

dulunya bilik - bilik kecil ini digunakan untuk penjara yang dimuati 5-6 orang

Minggu, 20 Mei 2012

1. Ada apa kali ini? : LAWANG SEWU


Bagi warga Jawa Tengah, nama Lawang Sewu tentu sudah tidak asing lagi. Ini adalah nama sebuah bangunan kuno yang letaknya persis di tengah kota Semarang, tepatnya di daerah Tugu Muda. Disebut "lawang sewu" (pintu seribu) karena bangunan peninggalan jaman Belanda ini memang memiliki pintu yang banyak sekali.







Lawangsewu dibangun tahun 1908, yang dikerjakan oleh arsitek Belanda Profesor Klinkkaner dan Quendaag. Tahun 1920, gedung ini mulai dipakai sebagai kantor pusat Nederlandsch Indische Spoor-weg Maatschapij (NIS), sebuah maskapai atau perusahaan kereta api pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1864.

Jalur pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang - Yogyakarta. Pembangunan jalur itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Sloet van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.

Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi yang dipilih kemudian adalah di ujung Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (kini Jalan Soegijapranata).


Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam.

Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.
Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong, berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri, dan sayap kanan.
Sebelum pembangunan dilakukan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari Gunung Merapi.





Pondasi pertama dibuat 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan di atasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati.
Setiap hari ratusan orang pribumi menggarap gedung ini. Lawang Sewu resmi digunakan tanggal 1 Juli 1907. Dalam perkembangannya, Lawang Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang terpusat di kawasan proliman (Simpanglima) yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda.

Saat meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang, 14-18 Agustus 1945, Lawangsewu dan sekitarnya menjadi pusat pertempuran antara laskar Indonesia dan tentara Jepang. Pada peristiwa bersejarah tersebut, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka adalah:

* Noersam,
* Salamoen,
* Roesman,
* RM Soetardjo, dan
* RM Moenardi.

Untuk memperingati mereka, di sebelah kiri pintu masuk (gerbang) didirikan sebuah tugu peringatan bertuliskan nama para pejuang Indonesia yang gugur (mohon maaf tidak ada fotonya). 








Perusahaan kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam.





Jam buka:
Senin - Minggu, pukul 06:00 - 18:00 WIB
Harga tiket:
  • Rp 5.000 (masuk ke Lawang Sewu)
  • Rp 10.000 (masuk ruang bawah tanah)
Khusus hari Kamis, Jumat, dan Sabtu ada paket mengitari Lawang Sewu pada pukul 24:00 WIB (jadwal valid diambil dari : Yogyes.com)

Sumber informasi: Tour Guide Lawang sewu dan berbagai sumber dari website melalui mesin pencari Google